Perang Hibrida (Hybird War) adalah sebuah strategi militer
yang memadukan antara perang Konvensional,perang yang tidak teratur dan ancaman
cyber warfare baik berupa serangan Nuklir, senjata biologi dan kimia,alat
peledak improvisasi dan perang Informasi.
Lalu bagaimana kita mengartikan perang Hibrida ini dalam
konteks yang mudah di mengerti?
Untuk memudahkan pemahaman kita barangkali ada contoh yang
sudah sangat dikenali oleh masyarakat yaitu perang di medan KURUSETRA dalam
pewayangan yang melibatkan pihak PENDAWA dan KURAWA.
Perang Kurusetra merupakan perang 18 hari yang berakhir
dengan kemenangan pihak Pendawa.
Perang Kurusetra merupakan gambaran perang Hibrida yang
rasanya lebih mudah di mengerti.
Perang tersebut meliputi perang Konvensional karena
mempunyai aturan perang dan dilakukan dalam formasi formasi tertentu, senjata
yang digunakan pun Deskripsinya sudah mengarah kepada senjata Nuklir pada saat
ini ( Hanya saja pada saat itu berupa Panah, Gada, pedang, Cakra dan sejenisnya
namun Deskripsi ketika senjata itu digunakan efeknya sama dengan senjata Nuklir
saat ini ).
*.-Perang Irregulermenjadikan Srikandi tameng,padahal bukan
Irreguler Forces.
*.-Perang Asimetrik, Gatot kaca sendirian melawan pasukan
yang besar.
*.-Perang Informasi,lebih tepatnya Disinformasi dan rekayasa
Informasi dengan menyebarkan Informasi terbunuhnya gajah bernama ASWATAMA yang
merupakan faktor penentu kemenangan perang.
Secara umum dapat disimpulkan bahwa Perang Hibrida intinya
adalah gabungan berbagaj jenis perang yang biasanya dilakukan pihak yang lebih
lemah untuk melawan pihak yang lebih kuat secara Konvensional.
Inilah barangkali gambaran sederhana yang lebih mudah
dimengerti tentang apa itu perang Hibrida.
Perang HIBRIDA merupakan campuran model perang asimetris,
perang simetris ( serbuan militer ) ,perang proksi, perang informasi ( wujudnya
bisa propaganda, edit dan kontra berita, penyesatan dll ) serta perang
konvensional itu sendiri.
Ada empat jenis prakteknya atau bisa juga lebih. Artinya
model mana duluan, siapa di belakang, kapan bersamaan, atau bagaimana manuver
dengan intensitas berbeda maka terpulang The man behind the gun strategy.
-Gejolak politik di Libya tatkala campur tangan tangan asing
menggusur Moammar Khadafi dari tampuk kekuasaan adalah salah satu contoh Perang
Hibrida.
-Dari ARAB SPRING atau ” musim semi Arab” inilah model
Perang asimetris dan perang Hibrida seolah olah gerakan rakyat /massa
sebagaimana pernah menggulung negara negara PAKTA WARSAWA dekade 2000-an yang
berslogan Colour revolution atau Revolusi warna.
-isu perang Balkan yang terkenal dengan istilah BALKANISASI
tidak luput dari model perang campuran yaitu perang Asimetris ,perang Hibrida
dan perang Proksi.
Apabila dicermati, ternyata para penulis Amerika ketika
membicarakan perang Hibrida secara khusus adalah membahas tentang kasus kasus
perang di Iraq, Afghanistan,syria,Libya,yaman dan Libanon yang bisa dipastikan
ini adalah konsep perlawanan atau perjuangan yang mengusung konsep
gerilya,perang kota, Asimetris, menggunakan persenjataan canggih dan perang
Informasi dengan memanfaatkan segala upaya untuk dapat bertahan melawan
agressor dan mengusirnya keluar dari negaranya.
Dalam hal ini, Amerika telah mempelajari kegagalan mereka
pada perang Vietnam dan kegagalan mengendalikan Somalia.
Apabila mengacu pada hal itu, maka situasinya kira kira
kembali sama ketika Indonesia mengalami perjuangan fisik yang tidak lain adalah
PEOPLE’S WAR yang merupakan perang Inkonvensional dan tidak teratur ( Irregular
). namun sesuai kondisi saat ini dengan kesulitan yang lebih tinggi karena
sudah memanfaatkan tehnologi informasi seperti yang digunakan dalam Cyber War.
Kelompok Teroris dan Insurjen memanfaatkan internet untuk
berkomunikasi,mendistribusikan propaganda, merekut anggotanya dan tugas tugas lainnya
yang menambah kompleksitas perang tersebut.
Khusus mengenai kondisi di Indonesia,
Ada ancaman aktual terkait dengan perang Hibrida ini yaitu
masalah:
-Konflik Horizontal antara kelompok etnis dan kelompok
religius/militant, jaringan narkoba, kelompok Insurjen dan terorisme.
Dengan demikian ancaman perang Hibrida itu memang benar
benar ada sesuai dengan yang dinyatakan dalam amanat oleh Panglima TNI,oleh
karenanya TNI harus sedia payung sebelum hujan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar